BENDUNGAN ASI
1. Fisiologi Laktasi
Selama kehamilan hormon estrogen dan progesterone menginduksi perkembangan
alveolus dan duktus laktiverus di dalam mammae atau payudara dan juga
merangsang produksi kolostrum. Namun, produksi ASI tidak berlangsung sampai
sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormon estrogen menurun. Penurunan kadar estrogen ini memungkinkan
naiknya kadar prolaktin dan produksi ASI pun dimulai. Produksi prolaktin yang
berkesinambungan disebabkan oleh menyusuinya bayi pada mamae ibu
(Soetjiningsih, 1997).
Pembentukan dan proses laktasi ini, dipengaruhi oleh reflek prolaktin dan
let down (Perinasia, 2007).
a.
Reflek Prolaktin
Setelah partus, berhubung lepasnya lasenta dan berkurangnya fungsi korpus
luteum ditambah dengan adanya hisapan bayi pada putting susu akan menimbulkan
rangsangan yang merangsang ujung – ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai
reseptor mekanik. Rangsangan dilanjutkan ke hipotalamus melalui medula spinalis
dan mesensephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor – faktor yang
menghambat sekresi prolaktin dan merangsang pengeluaran fakator – faktor yang
memacu sekresi prolaktin. Hal ini akan merangsang adeno hipofise ( hipofise
anterior ) sehingga keluar prolaktin. Prolaktin akan merangsang sel – sel alveli untuk memproduksi air susu.
b.
Reflek Let Down
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adeni hipofise, rangsangan
yang berasal dari hisapan bayi yang dilanjutkan ke neuro hipofise ( hipofise
posterior )yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah , hormon
ini daingkut menuju uerus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga
terjadi involusi uterus. Oksitrosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi
sel – sel mioeptelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah
keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang melalui duktus laktiferus
akan sampai ke mulut bayi.
Yang
diperoleh bayi dari ibunya sesudah dilahirkan adalah kolostrum. ASI mulai ada
kira-kira pada hari ke3 atau ke4 setelah kelahiran bayi, dan kolostrum berubah
menjadi ASI yang “matur” kira-kira 15 hari sesudah bayi lahir. Bila ibu
menyusui sesudah bayi lahir dan bayi diperbolehkan sering menyusu, maka proses
adanya ASI akan meningkat


Gambar
1. Anatomi payudara
2. Pengertian bendungan ASI
a.
Adalah pembendungan
ASI karena penyempitan duktus laktiferi atau karena pengosongan yang tidak
sempurna atau karena kelainan putting.( Mochtar, 1998)
b.
Adalah suatu
keadaan dimana terjadi sumbatan pada satu atau lebih duktus laktiferi. (Soetjiningsih,
1997)
3. Penyebab bendungan ASI
a. Bayi belum bisa menyusui sempurna/sedikit
b. Ibu tidak mau menyusui bayinya
c.
Ibu tidak
tahu perawatan payudara
4. Tanda – tanda bendungan ASI
a.
Payudara bengkak dan keras
b.
Payudara terasa panas dan nyeri
c.
Putting lebih datar
d.
Kulit payudara merah mengkilat
e.
Areola lebih menonjol
f.
Ibu merasa tidak nyaman
5. Pencegahan bendungan ASI
Pencegahan dapat
dilakukan dengan cara :
1.
Payudara sering disusukan
2.
Gunakan BH yang menyangga
3.
Kompres hangat / diperas seblm disusukan
4.
Tehnik menyusui yang baik
6. Penatalaksanaan bendungan ASI
a.
Bila ibu menyusui :
1)
Susukan sesering mungkin ke2 payudara
2)
Berikan tehnik menyusui yg benar
3)
Untuk mengurangi rasa nyeri sebelum menyusui dikompres
panas
dan dingin secara
bergantian dan ASI diperas dulu serta membasahi
putting dengan
ASI sebelum menyusui
4) Untuk mengurangi nyeri setelah menyusui :
Ø
gunakan BH yg menyangga
Ø
keluarkan sisa ASI
Ø
kompres dingin
Ø
berikan paracetamol 500mg s/ 4 jam
Ø
Lakukan evaluasi setelah 3 hari
b. Bila ibu tidak menyusui:
1)
Sangga payudara dg BH ketat
2)
Kompres dingin pd payudara
3)
Hindari pijat dan kompres hangat
4)
Berikan paracetamol 500mg
5) Berikan lynoral atau stilbistrol 3 x 1 selama 3 hari ( kalau perlu )
7. Komplikasi bendungan ASI
Pencegahan dapat
dilakukan dengan cara :
a.
Mastitis
Peradangan
pada payudara disebabkan kuman, terutama bakteri stafylococcus aereus melalui
puting susu atau melalui peredaran darah (Mochtar,1997).
b.
Abses payudara
Terjadi
sebagai komplikasi mastitis akibat meluasnya peradangan, sakit ibu tampak lebih
parah, payudara lebih merah,mengkilat benjolan tebal sekeras mastitis, tetapi
lebih penuh atau bengkak berisi cairan (Mansjoer,2001).
Referensi
Hulliana, M. 2003. Perawatan Ibu Pasca
Melahirkan. Jakarta : Pupaswara.
Mansjoer, A. 2001. Kamus Kedokteran.
Jakarta : FKUI.
Manuaba, I.B.G. (1998). Ilmu
Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan.
Jakarta : EGC.
Mochtar, R. 1998. Sinopsis
Obstetri Fisiologi, edisi II jilid I. Jakarta : EGC.
Nursalam. 2001.Proses dan Dokumentasi
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Perinasia. 2007. Manajemen Laktasi. Jakarta
: Perinasia.
Pusdiknakes.2003. Konsep Asuhan Kebidanan, Buku I.
Jakarta : Pusdiknakes.
Saifuddin, A.B. 2001. Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Saifuddin, A.B. 2002. Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Soetjiningsih. 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga
Kesehatan. Jakarta : EGC.