Senin, 03 Juni 2013

KOMPLIKASI DAN PENYAKIT DALAM MASA NIFAS SERTA PENANGANANNYA

BENDUNGAN ASI

1.      Fisiologi Laktasi
Selama kehamilan hormon estrogen dan progesterone menginduksi perkembangan alveolus dan duktus laktiverus di dalam mammae atau payudara dan juga merangsang produksi kolostrum. Namun, produksi ASI tidak berlangsung sampai sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormon estrogen menurun.  Penurunan kadar estrogen ini memungkinkan naiknya kadar prolaktin dan produksi ASI pun dimulai. Produksi prolaktin yang berkesinambungan disebabkan oleh menyusuinya bayi pada mamae ibu (Soetjiningsih, 1997).
Pembentukan dan proses laktasi ini, dipengaruhi oleh reflek prolaktin dan let down (Perinasia, 2007).
a.       Reflek Prolaktin
Setelah partus, berhubung lepasnya lasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum ditambah dengan adanya hisapan bayi pada putting susu akan menimbulkan rangsangan yang merangsang ujung – ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan dilanjutkan ke hipotalamus melalui medula spinalis dan mesensephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor – faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan merangsang pengeluaran fakator – faktor yang memacu sekresi prolaktin. Hal ini akan merangsang adeno hipofise ( hipofise anterior ) sehingga keluar prolaktin. Prolaktin akan merangsang    sel – sel alveli untuk memproduksi air susu.
b.      Reflek Let Down
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adeni hipofise, rangsangan yang berasal dari hisapan bayi yang dilanjutkan ke neuro hipofise ( hipofise posterior )yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah , hormon ini daingkut menuju uerus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi uterus. Oksitrosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel – sel mioeptelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang melalui duktus laktiferus akan sampai ke mulut bayi.
Yang diperoleh bayi dari ibunya sesudah dilahirkan adalah kolostrum. ASI mulai ada kira-kira pada hari ke3 atau ke4 setelah kelahiran bayi, dan kolostrum berubah menjadi ASI yang “matur” kira-kira 15 hari sesudah bayi lahir. Bila ibu menyusui sesudah bayi lahir dan bayi diperbolehkan sering menyusu, maka proses adanya ASI akan meningkat
                          Gambar 1. Anatomi payudara
2.      Pengertian bendungan ASI
a.       Adalah pembendungan ASI karena penyempitan duktus laktiferi atau karena pengosongan yang tidak sempurna atau karena kelainan putting.( Mochtar, 1998)
b.      Adalah suatu keadaan dimana terjadi sumbatan pada satu atau lebih duktus laktiferi. (Soetjiningsih, 1997)

3.      Penyebab bendungan ASI
a.       Bayi belum bisa menyusui sempurna/sedikit
b.      Ibu tidak mau menyusui bayinya
c.       Ibu tidak tahu perawatan payudara

4.      Tanda – tanda bendungan ASI
a.         Payudara bengkak dan keras
b.         Payudara terasa panas dan nyeri
c.         Putting lebih datar
d.        Kulit payudara merah mengkilat
e.         Areola lebih menonjol
f.          Ibu merasa tidak nyaman

5.      Pencegahan bendungan ASI
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
1.      Payudara sering disusukan
2.      Gunakan BH yang menyangga
3.      Kompres hangat / diperas seblm disusukan
4.      Tehnik menyusui yang baik

6.      Penatalaksanaan bendungan ASI
a.       Bila ibu menyusui :
1)   Susukan sesering mungkin ke2 payudara
2)   Berikan tehnik menyusui yg benar
3)   Untuk mengurangi rasa nyeri sebelum menyusui dikompres panas
dan dingin secara bergantian dan ASI diperas dulu serta membasahi
putting dengan ASI sebelum menyusui
4)   Untuk mengurangi nyeri setelah menyusui :
Ø gunakan BH yg menyangga
Ø keluarkan sisa ASI
Ø kompres dingin
Ø berikan paracetamol 500mg s/ 4 jam
Ø Lakukan evaluasi setelah 3 hari
b.      Bila ibu tidak menyusui:
1)   Sangga payudara dg BH ketat
2)   Kompres dingin pd payudara
3)   Hindari pijat dan kompres hangat
4)   Berikan paracetamol 500mg
5)   Berikan lynoral atau stilbistrol 3 x 1 selama    3 hari ( kalau perlu )

7.      Komplikasi bendungan ASI
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
a.       Mastitis
Peradangan pada payudara disebabkan kuman, terutama bakteri stafylococcus aereus melalui puting susu atau melalui peredaran darah (Mochtar,1997).
b.      Abses payudara
Terjadi sebagai komplikasi mastitis akibat meluasnya peradangan, sakit ibu tampak lebih parah, payudara lebih merah,mengkilat benjolan tebal sekeras mastitis, tetapi lebih penuh atau bengkak berisi cairan (Mansjoer,2001).


Referensi

Hulliana, M. 2003. Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Jakarta : Pupaswara.

Mansjoer, A. 2001. Kamus Kedokteran. Jakarta : FKUI.

Manuaba, I.B.G. (1998). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi, edisi II jilid I. Jakarta : EGC.

Nursalam. 2001.Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Perinasia. 2007. Manajemen Laktasi. Jakarta : Perinasia.

Pusdiknakes.2003. Konsep Asuhan Kebidanan, Buku I. Jakarta : Pusdiknakes.

Saifuddin, A.B. 2001. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifuddin, A.B. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


Soetjiningsih. 1997. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar